2. Ust Abdul Somad - Untuk Pecinta Nabi SAW : Download
ABDUL HAKIM
KUMPULAN CERAMAH ISLAM
1. Ust Abdul Somad - Syarat Mendapat Syafaat : Download
2. Ust Abdul Somad - Untuk Pecinta Nabi SAW : Download
2. Ust Abdul Somad - Untuk Pecinta Nabi SAW : Download
PENCIPTAAN MANUSIA DI ALAM RAHIM
Harun Yahya, itulah nama pena seorang Ilmuwan
terkenal yang telah meneliti berbagai macam ciptaan Allah demi membuktikan
kebenarannya. Semoga bermanfaat kawan. .
Bagi orang yang tidak
menggunakan akal sehat, jika ia bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana saya
ada?” ia akan menjawab, “Saya ada entah bagaimana!” Dengan penalaran demikian,
ia akan menjalani kehidupan tanpa pernah merenungkan masalah-masalah seperti
itu.
Akan tetapi, orang yang berakal
semestinya merenungkan bagai-mana ia diciptakan, dan menentukan makna hidupnya
sesuai dengan hasil perenungannya. Dalam perenungan ini, ia tidak perlu takut -
seperti yang dirasakan sebagian manusia - untuk mencapai kesimpulan “Saya telah
diciptakan”.
Orang yang tak mau merenungkan hal ini sebenarnya tidak ingin
bertanggung jawab pada sang Pencipta. Mereka takut harus mengubah gaya hidup,
kebiasaan, dan ideologi jika mengaku telah diciptakan. Oleh karena itu, mereka
lari dari ketaatan kepada Pencipta mereka. Demikianlah sikap yang diambil
orang-orang yang menging-kari Allah dan “mengingkari (tanda-tanda
kekuasa-an-Nya) karena kezaliman dan kesombongan mereka, padahal hati mereka
meyakini kebenarannya” (QS. An-Naml, 27: 14).
"وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ "
"dan mereka mengingkarinya karena
kezaliman dan kesombongan (mereka) Padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.
Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.
Sebaliknya, seseorang yang
menilai kebera-daan dirinya dengan kearifan dan akal sehat, akan melihat dalam
dirinya hanya tanda-tanda pen-ciptaan Allah. Ia mengakui bahwa keberadaannya
bergantung pada kerja sama antara ribuan sistem rumit, yang tak satu pun ia
ciptakan atau ia kenda-ikan. Ia memahami fakta bahwa “ia diciptakan”. Dengan
mengenal Penciptanya, ia berusaha me-mahami untuk tujuan apa ia
“diciptakan” Tuhan.
Bagi siapa pun yang berusaha
memahami makna ciptaan Tuhan, terdapat kitab petunjuk: Al Quran. Kitab ini
adalah panduan yang diberikan kepada semua manusia yang diciptakan Tuhan di
muka bumi.
Bahwa fenomena penciptaan itu
terjadi sesuai dengan uraian yang ada dalam Al Quran membawa
arti sangat penting bagi orang-orang yang berakal.
Pada halaman-halaman berikut
terkan-dung berbagai informasi, bagi mereka yang arif dan berakal sehat, yang
menunjukkan bagai-mana “mereka diciptakan” dan keajaiban pen-ciptaan ini.
Kisah penciptaan manusia berawal
di dua tempat yang saling berjauhan. Manusia menapaki kehidupan melalui
pertemuan dua zat terpisah di dalam tubuh lelaki dan perem-puan, yang
diciptakan saling terpisah namun sangat selaras. Jelas, sperma di dalam tubuh
lelaki tidak dihasilkan atas kehendak dan kendali lelaki tersebut, sebagaimana
sel telur di dalam tubuh perempuan tidak terbentuk atas kehendak dan kendali
perempuan tersebut. Sesungguhnya, mereka bahkan tidak menyadari pembentukan
sel-sel ini.
“Kami telah menciptakan kamu,
maka mengapa kamu tidak mem-benarkan (hari berbangkit)? Maka terangkanlah
kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau
Kamikah yang menciptakannya?” (QS. Al Waaqi'ah, 56: 57-59) !
Jelaslah bahwa kedua zat
tersebut, yang berasal dari lelaki dan perempuan, diciptakan sangat
bersesuaian. Penciptaan kedua zat ini, pertemuan antara keduanya, dan
perubahannya menjadi manusia sung-guhlah suatu keajaiban besar.
Buah Pelir dan Sel Perma
Sperma, yang merupakan tahap
pertama dalam penciptaan manusia, diproduksi “di luar” tubuh manusia. Ini
karena produksi sperma hanya mungkin terjadi di lingkungan bersuhu 2C di bawah
suhu tubuh normal. Untuk menstabilkan suhu pada tingkat ini, buah pelir dilapisi
kulit khusus. Kulit ini mengerut pada cuaca dingin dan mengembang pada cuaca
panas, untuk menjaga suhu tetap konstan.
Apakah lelaki “mengen-dalikan” dan
mengatur sendiri keseimbangan rumit ini? Tentu tidak. Ia bahkan tidak menyadari
hal ini. Para pengingkar penciptaan hanya dapat mengatakan, ini adalah “fungsi
tubuh manusia yang belum diketahui”. Definisi “fungsi yang belum diketahui”
hanyalah “sekadar nama”.
Sperma diproduksi dalam buah
pelir dengan laju produksi 1000 per menit. Sel ini memiliki desain khusus untuk
perjalanannya menuju indung telur perempuan, perjalanan yang berlangsung seolah
ia “menge-nal” tempat itu. Sperma terdiri atas kepala, leher, dan ekor. Ekornya
membantunya bergerak bagai ikan menuju rahim.
Bagian kepalanya, yang
mengandung sebagian kode genetis bayi, ditutupi perisai pelindung khusus.
Fungsi perisai ini terungkap di pintu masuk rahim ibu: di sini lingkungannya
sangat asam. Jelas, sperma ditutupi dengan perisai pelindung oleh “seseorang”
yang tahu tentang keasaman ini. (Kondisi lingkungan asam ini bertujuan
melindungi sang ibu dari mikroba).
Yang diejakulasikan ke dalam
rahim tidak hanya jutaan sperma. Air mani adalah campuran berbagai macam
cairan. Al Quran menegaskan fakta ini dalam ayat berikut:
“Bukankah telah datang atas
manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan yang dapat
disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang
bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena
itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al Insaan, 76: 1-2) !
Cairan dalam air mani ini berisi
gula, untuk memberi energi yang dibutuhkan sperma. Di samping itu, komposisi
utamanya memiliki beragam tugas, seperti menetralkan asam pada pintu masuk ke
rahim dan menjaga kelicinan medium untuk pergerakan sperma. (Di sini sekali
lagi terlihat bahwa dua wujud yang berbeda dan saling independen, diciptakan
saling cocok).
Spermatozoa menempuh perjalanan sulit di dalam rahim ibu hingga
mencapai sel telur. Betapapun mereka bertahan, kurang-lebih hanya seribu dari
sekitar 200-300 juta spermatozoa yang mencapai sel telur.
Sel Telur
Jika sperma didesain sesuai
dengan sel telur, sel telur juga disiapkan sebagai benih kehidupan pada medium
yang sama sekali berbeda…. Tanpa sepengetahuan perem-puan, sel telur yang telah
matang di indung telur ditinggalkan di rongga perut, kemudian tertangkap oleh
lengan-lengan pada ujung organ tubuh bernama tuba falopii rahim. Setelah itu,
sel telur mulai bergerak dengan bantuan gerakan rambut pada tuba falopii. Sel
telur ini besarnya hanya setengah partikel garam.
Sel telur dan sperma bertemu di
dalam tuba falopii. Di sini sel telur mulai mengeluarkan cairan khusus. Dengan
bantuan cairan ini, sperma-tozoa menemukan lokasi sel telur. Kita harus menyadari
bahwa tatkala kita mengatakan sel telur “mulai mengeluarkan”, kita tidak sedang
mem-bicarkan manusia atau suatu makhluk sadar.
Hal ini tidak dapat dijelas-kan
melalui konsep kebetulan, bahwa massa protein mikroskopis “me-mutuskan”
tindakan itu “dengan sendirinya”, kemudian “mempersiap-kan” dan mengeluarkan
senyawa kimia untuk menarik spermatozoa kepadanya. Ini merupakan bukti bahwa
ada sebuah perancangan dalam proses ini.
Singkatnya, sistem reproduksi
tubuh didesain untuk mempersatu-kan sel telur dan sperma. Ini berarti bahwa
sistem reproduksi perempuan diciptakan sesuai dengan kebutuhan spermatozoa dan
spermatozoa diciptakan sesuai dengan kebutuhan lingkungan di dalam tubuh
wanita.
Pertemuan Sperma dan Sel Telur
Ketika spermayang akan membuahi
sel telursemakin mendekati sel telur, sel telur kembali “memutuskan” untuk
mengeluarkan suatu cairan, yang disiapkan khusus bagi sperma, untuk melarutkan
perisai perlindungan sperma. Akibatnya, terbukalah kantung enzim pelarut pada
ujung sperma, yang dibuat secara khusus untuk sel telur.
Ketika sperma mencapai
sel telur, enzim-enzim ini melubangi membran sel telur dan memungkinkan sperma
masuk. Spermatozoa di sekeliling telur mulai berebut masuk, tetapi biasanya
hanya satu sperma yang berhasil membuahi sel telur.
Ayat-ayat Al Quran yang
menjelaskan tahapan ini sangatlah mena-rik. Dalam Al Quran, dinyatakan bahwa
manusia dibuat dari saripati cairan hina, yaitu air mani.
“Kemudian Dia menjadikan
keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).” (QS. As-Sajadah, 32: 8) !
Sebagaimana diungkapkan ayat
tersebut, bukan cairan yang membawa spermatozoa itu yang membuahi telur,
mela-inkan “saripatinya” saja. Sari-pati tersebut adalah sperma di dalamnya,
yang menjadi agen pembuahan, atau lebih tepat lagi, kromo-som di dalam sperma
tersebut, yang merupakan “saripati” sperma.
Ketika sel telur membiarkan satu
sperma masuk, sperma lain tidak mungkin masuk. Penyebabnya adalah medan listrik
yang terbentuk di sekeliling sel telur. Wilayah di sekeliling telur bermuatan
negatif (-) dan begitu sperma pertama menembus sel telur, muatan ini berubah
menjadi positif (+). Oleh karena itu, sel telur tersebut, yang kini bermuatan
sama dengan spermatozoa lain di luar, mulai menolak mereka.
Ini berarti muatan listrik
kedua zat tersebut, yang terbentuk secara independen dan terpisah, juga
bersesuaian
Akhirnya, bergabunglah DNA laki-laki di
dalam sperma dan DNA perempuan di dalam sel telur. Sekarang terdapat benih
pertama, sel pertama dari manusia baru, di dalam kandungan ibu: zigot.
Segumpal Darah yang Melekat pada
Rahim …
Saat sperma dari laki-laki
bersatu dengan sel telur dari perempuan, inti dari bayi yang akan dilahirkan
mulai terbentuk. Sel tunggal ini, yang dalam biologi dikenal dengan istilah
“zigot”, akan segera mulai berkem-bang dengan melakukan pembelahan sel, dan
akhirnya menjadi “segumpal daging”.
Namun, zigot tersebut tidak mengha-biskan
masa pertumbuhannya dalam kehampaan. Zigot melekat pada rahim, bagaikan akar
yang menancap kuat ke bumi melalui sulurnya. Melalui ikatan ini, zigot
memperoleh zat gizi yang pen-ting bagi pertumbuhannya dari tubuh sang ibu.
Perincian seperti ini tak
mungkin di-ketahui tanpa pengetahuan fisiologi yang memadai. Jelas,
berabad-abad lalu tidak ada seorang pun yang menguasai ilmu seperti itu. Tapi
sungguh menarik, Allah selalu menyebut zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu
sebagai “segumpal darah” dalam Al Quran:
“Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Pa-ling Pemurah.” (QS. Al 'Alaq, 96: 1-3) !
“Apakah manusia mengira, bahwa
ia akan dibiar-kan begitu saja (tanpa pertanggungan jawab)? Bu-kankah dia
dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu
menjadi se-gumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakan-nya,
lalu Allah menjadikan darinya sepasang; laki-laki dan perem-puan.” (QS. Al
Qiyaamah, 75: 36-39) !
Dalam bahasa Arab, arti kata
“'alaq” atau “segumpal darah” adalah “benda yang melekat pada suatu tempat”.
Secara harfiah, kata tersebut digunakan untuk menjelaskan lintah yang menempel
pada kulit untuk mengisap darah. Jelas, itulah kata yang paling tepat untuk
menggam-barkan zigot yang melekat pada dinding rahim untuk menyerap makan-an
darinya.
Masih banyak ayat Al Quran yang
mengungkap tentang zigot ini. Dengan menempel pada rahim secara sempurna, zigot
pun mulai tum-buh. Sementara itu, rahim sang ibu dipenuhi dengan “cairan
amnion” yang melingkupi zigot. Fungsi terpenting cairan amnion bagi
pertum-buhan bayi adalah melindungi si bayi dari “serangan” dari luar. Dalam Al
Quran, fakta ini diungkapkan sebagai berikut:
“Bukankah Kami menciptakan kamu
dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh
(rahim).” (QS Al Mursalat, 77: 20-21) !
Semua informasi Al Quran tentang
pembentukan manusia ini mem-perlihatkan bahwa Al Quran berasal dari sebuah
sumber yang mengeta-hui masalah ini hingga hal yang sekecil-kecilnya. Sekali
lagi, ini membuk-tikan bahwa Al Quran adalah firman Allah.
Sementara itu, embrio yang
awalnya mirip gel, mulai berubah seiring waktu. Dalam struktur yang mulanya
lunak ini, mulai terbentuk tulang keras untuk membantu tubuh berdiri tegak.
Kemudian sel, yang mulanya semua sama, mulai terspesialisasi: ada yang
membentuk sel mata yang peka terhadap cahaya, sel saraf yang peka terhadap
panas, dingin, dan sakit, dan sel yang peka terhadap getaran suara.
Apakah
sel-sel itu sendiri yang menentukan perbedaan-perbedaan ini? Apakah mereka
sendiri yang pertama kali memutuskan untuk membentuk hati atau mata ma-nusia,
kemudian menuntaskan tugas yang luar biasa ini? Ataukah di lain pihak, mereka telah
diciptakan dengan tepat untuk tujuan-tujuan ini? Kearifan, kecerdasan, dan jiwa
pasti akan membenarkan alternatif kedua.
Pada akhir proses, setelah sang
bayi tumbuh sempurna di dalam rahim ibu-nya, ia lalu lahir ke dunia. Kini bayi
itu 100 juta kali lebih besar dan 6 miliar kali lebih berat daripada wujud
awalnya.
Inilah kisah awal mula kehidupan
manusia, bukan makhluk lain. Jadi, apa yang lebih penting bagi manusia selain
mengetahui tujuan penciptaan yang menakjubkan ini?
Sangat tidak logis bila kita
berpikir bahwa semua fungsi kompleks ini terjadi “atas kemauan sendiri”. Tidak
ada seorang pun yang memiliki kekuatan untuk menciptakan dirinya sendiri,
menciptakan orang lain, atau menciptakan benda lain. Allah-lah yang menciptakan
semua kejadian yang telah dijelaskan tadi, pada setiap saat terjadinya, setiap
detiknya, dan setiap tahapannya.
“Dan Allah menciptakan kamu dari
tanah, kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan
(laki-laki dan perem-puan). Dan tidak ada seorang perempuan pun mengandung dan
tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan seka-li-kali
tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi
umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya
yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” (QS. Faathir, 35: 11) !
Tubuh kita, yang terbentuk hanya
dari “setetes mani”, berubah men-jadi manusia yang memiliki jutaan keseimbangan
yang rumit. Meskipun tidak kita sadari, di dalam tubuh kita terdapat sistem
yang teramat kom-pleks dan rumit, yang membantu kita bertahan hidup. Semua
sistem ini dirancang dan dioperasikan hanya oleh Sang Pemilik dan Pencipta
kita, yakni Allah, untuk menyadarkan kita bahwa “kita diciptakan”.
Manusia diciptakan oleh Allah.
Sejak diciptakan, manusia tidak per-nah “dibiarkan tanpa pengaturan atau tanpa
tujuan”.
Harun Yahya
Manusia, Ruh dan Al-Quran
Oleh: Abdullah Nasri
Ruh Menurut Al-Quran
Sebuah pertanyaan yang sampai saat ini jawabannya belum
mampu memuaskan manusia adalah, apakah hakikat wujud manusia? Apakah wujud
manusia hanya sebongkah badan materiel, atau juga membawa hakikat selain
materi? Dengan kata lain, apakah al-Quran mengakui bahwa manusia adalah hakikat
selain materi yang disebut dengan ruh atau menolaknya? Bila mengakui demikian,
lalu bagaimana kitab suci ini menjelaskan hubungan ruh dengan badan? Apakah ruh
ada setelah kejadian badan atau sebelumnya? Apakah al-Quran mengakui bahwa
setelah kehancuran badan, ruh tetap ada atau tidak?
Sebenarnya al-Quran telah menyebutkan adanya dimensi
selain materi pada manusia yang disebut dengan ruh. Sebagaimana yang
diisyaratkan oleh ayat berikut ini: Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan
ruh-Nya ke dalamnya dan Dia menjadikan untuk kalian pendengaran, penglihatan
dan hati tetapi sedikit sekali kalian bersyukur.[1] Kalimat “meniupkan ruh-Nya ke dalamnya” dalam
ayat di atas menunjukkan adanya dimensi yang bernama ruh pada manusia. Setelah
menjelaskan tentang ruh, ayat tersebut mengatakan bahwa Allah menciptakan untuk
kalian telinga, mata dan hati, menurut pandangan sebagian para penafsir,
meskipun membicarakan tentang anggota badan akan tetapi maksudnya adalah
penggunaan dari anggota tersebut yaitu mendengar dan melihat.
Mungkin bisa juga
diambil kesimpulan secara detil dari ayat di atas bahwa setelah menyebutkan
tentang peniupan ruh kemudian menyebutkan tentang telinga, mata dan hati
sebabnya adalah karena sumber asli perbuatan anggota tersebut adalah ruh. Yakni
bila ruh tidak ada maka anggota tersebut tidak ada gunanya karena anggota
tersebut hanya berperan sebagai perantara bagi ruh, tanpa ruh dengan sendirinya
anggota tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.
Dalam filsafat Islam
telah terbukti bahwa badan berperan sebagai perantara bagi aktivitas ruh.
Aktivitas yang dilakukan oleh anggota badan pada hakikatnya sumbernya adalah
ruh. Yakni melihat, mendengar, mencium dan berbicara semuanya terkait dengan
ruh. Mata, telinga, hidung dan lidah hanya sekedar perantara untuk mengetahui
masalah-masalah ini. Misalnya sebuah kacamata. Orang yang penglihatannya lemah,
ia menggunakan kacamata, lantas apakah kacamata itu sendiri yang melihat atau
kacamata hanya sekedar perantara bagi mata? Jelas kacamata dengan sendirinya
tidak bisa melihat akan tetapi ia harus diletakkan di depan mata sehingga mata
yang kerjanya adalah melihat dengan menggunakan kacamata ia bisa melihat
sesuatu. Pada hakikatnya mata dalam contoh tersebut sama seperti ruh, dan
telinga, mata dan lidah seperti kacamata sebagai perantara. Ruh dengan
perantara anggota badan bisa melakukan aktivitasnya.
Ayat lain yang
mengisyaratkan adanya ruh pada manusia adalah ayat berikut ini:
Dan apabila Aku telah
menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ruh-Ku ke dalamnya maka
tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud.[2] Dua poin penting
yang ada dalam dua ayat di atas adalah Allah mengatakan, “Aku meniupkan
ruh-Ku”, apa maksud dari kalimat tersebut? Apakah maksudnya adalah Allah
meniupkan sebagian ruh-Nya kepada manusia. Yakni sebagian ruh-Nya masuk ke
dalam tubuh manusia atau ada maksud yang lain lagi?
Jelas Allah bukan ruh sehingga harus memasukkan sebagian ruh-Nya ke
dalam tubuh manusia, akan tetapi yang dimaksud oleh al-Quran dengan penjelasan
ini adalah kemuliaan dan ketinggian ruh itu sendiri. Yakni ruh begitu bernilai
sehingga Allah menghubungkannya dengan diri-Nya dan mengatakan, “Aku meniupkan
kepadanya ruh-Ku”. Bisa kita jelaskan dengan contoh lain seperti masjid adalah
rumah Allah. Kita tahu bahwa masjid bukan rumah Allah, karena Dia bukan materi
sehingga harus membutuhkan tempat tinggal, akan tetapi maksudnya adalah nilai
dan pentingnya masjid sehingga disebut dengan rumah Allah. Contoh lain seperti
majelis rakyat juga disebut sebagai rumah rakyat.
Ada ayat lain yang mengisyaratkan tentang wujudnya ruh:Demi nafs
(ruh, jiwa) dan penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan jalan kefasikan dan
jalan ketakwaannya.[3] Ayat di atas menceritakan tentang realitas ruh yang memiliki
pemahaman. Ayat di atas mengatakan bahwa Allah telah mengilhamkan pemahaman
baik dan buruk. Mengingat bahwa pada manusia tidak terdapat anggota badan
pun yang bisa memahami sesuatu, maka yang layak memiliki pemahaman adalah
kekuatan selain materi yang disebut oleh al-Quran dengan ruh atau nafs.
Di sini kita mengajukan dua argumentasi
untuk membuktikan keberadaan ruh yang nonmateri:
1. Salah satu pembuktian ruh ialah cara
manusia memperoleh konsep-konsep universal (intiza’-e mafahim-e kulli). Maksud
dari universal di sini ialah bahwa konsep-konsep itu bisa bisa diaplikasikan
pada banyak objek. Misalnya, manusia sebagai konsep universal. konsep
manusia ini bisa diaplikasikan pada semua objek individualnya seperti Ali,
Husein, Husein dan selain mereka. Kita juga tahu bahwa konsep-konsep universal
ini tidak ada secara konkret di luar, karena segala yang ada di luar memiliki
keadaan, kualitas dan kuantitas tertentu. Pertanyaannya, di manakah tempat
konsep-konsep universal ini? Jelasnya, tempat mereka nonmateri, karena materi
melazimkan bentuk tertentu, keadaan tertentu, batas ruang dan waktu tertentu,
sementara konsep-konsep universal tidak memiliki satupun dari ciri-ciri ini.
Dengan demikian, maka mesti ada suatu sisi selain materi dalam wujud manusia,
sehingga konsep-konsep universal -yang tidak memiliki ciri-ciri materiel
sedikit pun- itu bisa berada di dalamnya.
2. Salah satu dari ciri-ciri materi
ialah adanya hubungan khas antara tempat dan penempat (yang menempati). Yakni,
penempat tidak pernah lebih besar dari tempatnya; sesuatu yang lebih besar
tidak bisa menempati ruang yang kecil. Manusia banyak menyaksikan benda-benda
besar dan ia bisa menempatkan gambaran (konsep) benda-benda besar tersebut
dalam pikirannya sesuai dengan ukurannya. Misalnya, ia bisa membayangkan gedung
bertingkat dua puluh dalam pikirannya atau menggambarkan ratusan meter persegi
gunung dalam pikirannya. Pertanyaannya, kalau benar bahwa penggambaran gedung
bertingkat dua puluh ini bisa dilakukan oleh otak sebagai benda yang memiliki
ukuran kecil, lantas bagaimana benda yang besar itu bisa menempati tempat yang
kecil ini? Jelas, berdasarkan kaidah di atas (yakni hubungan khas antara tempat
dan penempatnya) pasti ada satu hakikat nonmateri dalam diri manusia, sehingga
ia bisa menempatkan sesuatu yang besar itu dalam dirinya sesuai dengan ukuran
sebenarnya. Dan hakikat tempat tersebut ialah ruh (nafs). Karena ruh bukan
materi, ia bisa ditempati oleh sesuatu yang besar.
Hubungan Ruh dengan Badan
Dalam pembahasan ruh (nafs) ada pertanyaan,
“apa hubungan badan dengan ruh? Apa pendapat al-Quran dalam masalah ini? Apakah
al-Quran mengakui bahwa ruh dan badan adalah dua hakikat yang berpisah di mana
antara keduanya terdapat dualisme, atau al-Quran mengakui pendapat yang lainnya
lagi?”
Dalam sejarah filsafat, Descartes
dan pendukungnya memaparkan teorinya bahwa ruh dan badan adalah dua
substansi yang berbeda. Yakni jasmani adalah sesuatu dan ruh adalah sesuatu
yang lain lagi. Dan manusia adalah hakikat yang tersusun dari dua paduan yang
berbeda. Decart mengatakan bahwa sifat aslinya badan adalah perpanjangan,
perluasan. Dan sifat aslinya ruh adalah berpikir. Tentunya, Descartes mengakui
bahwa antara badan dan ruh, terdapat suatu hubungan, dan yang menghubungkan
keduanya adalah kelenjar (pineal gland) yang ada dalam otak.
Teori lain mengatakan bahwa hakikat
wujud manusia adalah ruh itu sendiri. Wujud manusia bukan komposisi dari badan
dan ruh. Yakni, wujud manusia adalah ruhnya itu sendiri, bukan ruh sebagai satu
bagian dari wujud manusia. Oleh karenanya, berdasarkan teori ini, antara ruh
dan badan ada sejenis hubungan yang disebut dengan hubungan taktis (ertebat-e
tadbiri), yang di dalamnya badan sebagai alat dan ruh sebagai
pengelola.
Ayat di bawah ini menunjukkan bahwa
al-Quran mengakui bahwa wujud manusia sebagai ruh itu sendiri.
Katakanlah, Malaikat maut yang diserahi mencabut nyawamu akan mematikan kalian
(yatawaffakum: mengambil kalian secara keseluruhan) kemudian hanya kepada
Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.[4] Kata “tawaffa” artinya adalah
mengambil, dan mengambil secara penuh. Ayat di atas mengatakan bahwa malaikat
pencabut nyawa akan mengambil dasar wujud manusia. Kalau memang ruh adalah satu
bagian dari wujud manusia, al-Quran tidak mengatakan: “yatawaffakum”, tetapi ia
akan mengatakan: “yatawaffa ba’dhakum”. Mengambil sebagian dari kalian berbeda
dengan mengambil kalian secara keseluruhan.
Maka dari
itu, mengingat bahwa malaikat maut akan mengambil ruh manusia; bukan mengambil
badannya. Dan ayat tersebut juga mengatakan bahwa malaikat akan mengambil
kalian secara keseluruhan. maka itu jelas bahwa hakikat wujud manusia adalah
ruh, bukan badan. Dengan melihat ayat berikut ini, akan kita dapatkan bahwa
wujud manusia adalah ruh, bukan badan. Jika kamu melihat orang-orang yang zalim
berada dalam tekanan-tekanan maut dan para Malaikat merentangkan
tangan-tangannya seraya berkata ‘keluarkanlah ruh kalian!’ di hari ini kalian
akan dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kalian selalu
mengatakan terhadap Allah perkataan yang tidak benar dan kalian selalu
menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.[5]
Dua poin penting dalam ayat tersebut adalah
kalimat “keluarkanlah ruh kalian” dan kalimat “hari ini kalian akan dibalas”
(tujzauna), yang menunjukkan masa sekarang dan masa yang akan datang. Artinya,
dan pembalasan siksa itu berlanjut, maka yang disiksa adalah ruh, karena badan
manusia akan rusak dan binasa dengan kematian, ketika itu ia tidak menanggung
siksa di alam barzakh.
Bagaimana Kejadian Ruh?
Terdapat banyak teori berkaitan dengan cara kejadian
ruh. Hanya saja, di sini kami akan membahas dua teori yang penting.
1. Teori Ruhaniyatul hudus ruhaniyatul baqa’.
Pendukung teori ini menyatakan bahwa hakikat ruh terkait dengan alam malakut
(metafisik). Yakni, sebelum kejadian badan, ruh berada di alam malakut. Setelah
kejadian badan, ruh menjadi tawanan badan dalam jangka waktu tertentu. Dan
setelah manusia mati, ruh kembali lagi ke asalnya, yaitu ke alam malakut.
2. Teori Jismaniyatul hudus ruhaniyatul baqa’.
Penggagas teori ini adalah Mulla Shadra. Ia mengatakan bahwa ruh bukan materi,
juga tidak turun dari alam malakut ke alam natural. Akan tetapi, ruh terjadi
dari evolusi substansial materi (takamul-e jauhari-ye madeh). Dengan penjelasan
lain, ruh manusia muncul dari gerak substansial yang disebut dengan nafs
natiqah (ruh yang berakal) dan ia abadi dan tidak musnah sepeninggal badan.
Oleh karenanya, ruh adalah hasil dari evolusi natural. Oleh karena itu,
kejadian ruh demikian ini disebut dengan jismaniyatul hudus.
Di sini kita ingin mengetahui; mana dari dua
teori ini yang diterima oleh al-Quran? Apakah dalam masalah ini ayat-ayat
al-Quran juga memaparkan pendapatnya? Dengan mengkaji ayat di bawah ini, bisa
dikatakan bahwa al-Quran menerima teori ‘Jismaniyatul hudus ruhaniyatul
baqa’. Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal)
dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu mani (yang disimpan) dalam tempat
yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu
segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami
jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.[6]
Al-Quran melanjutkannya demikian:
Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk)
lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.[7] Pada tahapan penciptaan dalam ayat di atas
digunakan lafazh ‘Fa’ dan ‘Tsumma’ yang artinya ‘kemudian’, di mana jika
kita teliti maka akan memahami maksudnya dengan baik.
Penjelasannya
adalah dua lafaz ini memiliki selisih yang sangat dekat sekali. Artinya, jika
selisih antara tahapan hanya dari segi sifat atau selisih substansinya dekat
sekali, seperti selisih antara tahapan gumpalan darah dengan gumpalan daging,
dan gumpalan daging dengan tulang belulang maka yang digunakan adalah lafazd
‘Fa’.
Sedangkan selisih
antara saripati tanah sampai mani dan mani sampai gumpalan darah maka selisih
substansinya jauh.
Kalau al-Quran
mengatakan ‘Tsumma Ansya’nahu Khalkan Akhar’, yaitu kemudian Kami jadikan dia
makhluk yang (berbentuk) lain, sebagai penguat makna tersebut di mana selisih
tahapan ini dengan tahapan sebelumnya adalah jauh yaitu daging bercampur tulang
belulang.
Kata ‘Ansya’ dalam
sastra Arab artinya adalah menciptakan sesuatu yang belum terjadi sebelumnya.
Dalam tahapan penciptaan
manusia yakni dari tanah sampai daging bercampur tulang belulang, al-Quran
menggunakan kata ‘Khalaqa’ dan ‘Ja’ala’. Namun di akhir menggunakan kata
‘Ansya’ dan ‘Khalqan Akhar’ untuk menunjukkan bahwa pada tahapan akhir muncul
sesuatu yang baru bagi manusia. Dengan kata lain setelah manusia menjalani
tahapan materi ia sampai pada satu tahapan di mana Allah mewujudkan untuknya
ciptaan yang lain.
Oleh karenanya,
dengan melihat empat poin di bawah ini maka penyimpulan teori ‘Jismaniyatul
hudus-nya ruh bisa disandarkan pada ayat-ayat di atas:
1. Sekaitan dengan
lafazd ‘Tsumma’ dan ‘Fa’. Lafazd Tsumma digunakan untuk tahapan penciptaan
sebelum munculnya ruh. Sedangkan lafazd ‘Fa’ (menunjukkan selisih antara
tahapan wujud) digunakan pada tahapan terakhir penciptaan manusia ketika ruh
sudah bergabung dengan badan.
2. Penggunaan kata
‘Ansya’, menunjukkan penciptaan sesuatu yang belum terjadi sebelumnya.
3. Dalam penciptaan
ruh menggunakan istilah ‘Khalkan Akhar’ artinya penciptaan lain.
4. Pada kata ‘Ansya’nahu’,
zamir ‘Hu’ kembali kepada makhluk yang melewati beberapa tahapan
dari gumpalan
darah sampai daging yang menutupi tulang.[EMS]
[1]. QS, As-Sajdah: 9.
[2] . QS, Al-Hijr: 29.
[3] . QS, As-Syams:
7-8.
[4] . QS, AS-Sajdah: 11.
[5] . QS,
Al-An’am: 93.
[6] . QS,
Al-Mukminun: 12-14.
[7] . QS, Al-Mukminun: 14.
Sumber : http://www.al-shia.org/html/id/quran/buku-dan/12.htm
Langganan:
Postingan (Atom)