EDISI 001
Cirebon, 2 Sya’ban 1433 H/22 Juni 2012 M
Pengasuh : Prof. Dr. KH Salim Badjri
Sejak alam manusia masih berada di alam ruh sudah mengikat
janji setia tentang tauhidullah QS. 7 : 172
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan
anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa
mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul
(Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar
di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,
Bagi kaum muslimin harus bersyukur dan gembira, setelah
ikrar ruh dimasukkan ke rahim ibu-ibu muslimah, secara implisit ruh itu
dimasukkan ke dalam rahim ibu-ibu muslimah dengan sengaja agar selamat dunia
akhirat, mau tidak ? Ada yang mau dan menerima menjadi muslim beriman, ada yang
menolak, menjadi muslim fasik (munafik). Padahal pada akhir ayat tersebut
disebutkan “Jangan sampai di hari qiamat kamu mengatakan kami lalai akan janji
tersebut”. Padahal Allah telah mengatur merealisasikan janji tersebut pada
setiap shalat dalam baca’an Al Fatihah.
“segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang, yang menguasai di hari Pembalasan.” Ini adalah ikrar
Tauhid.
Kemudian membaca “Dan hanya kepada Engkaulah Kami
menyembah dan hanya kepada engkaulah kami meminta pertolongan” Ini
adalah ikrar kepatuhan di dalamnya mengandung janji, tidak akan
menyembah dan minta tolong kepada siapapun, kecuali hanya
kepada Allah saja. Setelah itu minta bimbingan
kepada Allah agar istiqomah dan beriman
“Tunjukilah Kami jalan yang lurus”
Langsung Allah jawab agar harapannya terwujud dengan
menunjuk Qs. 6 : 153
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang
lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)521,
karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu
diperintahkan Allah agar kamu bertakwa".
PerintahNya; hanya mengikuti apa yang ada dalam Al Qur’an,
kalau ada ayat yang bersifat umum, bisa mengikuti apa yang terdapat dalam
hadits Nabi Saw. Dalam ayat ini cukup jelas tidak boleh mengikuti masalah
syariah dari produksi manusia, maka akan terjadi pecah belah antara sesama
muslim.
Maka selanjutnya yang diminta صِرَاطَ
الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ. “(yaitu) jalan
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka“ Yaitu jalan yang
sukses yang membawa iman dan taqwa yang engkau telah berikan ni’mat kepada
mereka.
Qs. 4 : 69 :
"Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka
itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah,
yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin314, orang-orang yang mati syahid, dan
orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya".
Kemudian yang diminta jangan dimurkai (seperti penganut
Yahudi).“ bukan (jalan) mereka yang dimurkai” Benar-benar kami takut akan
murka dan la’nat Allah, seperti yang telah ditimpakan kepada kaum Yahudi. Qs. 5
: 60:
"Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang
orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi
Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka
(ada) yang dijadikan kera dan babi424 dan (orang yang) menyembah thaghut
?”. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang
lurus".
Juga di dalam beribadah kami mohon tidak tersesat seperti
penganut Nashoro “dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”
Sekian banyak umat tersesat di kala beribadah karena beranggapan yang dilakukannya adalah baik dan benar, padahal bukan dari Allah dan Rasul, maka di akhirat timbul penyesalan, diduga dia akan masuk syurga, bahkan sebaliknya neraka,
maka dia menjerit-jerit minta dikembalikan ke dunia akan
beramal shalih sesuai perintah Allah dan Rasul. Qs. 35 : 37
"Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami,
keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan
dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu
dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah
tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan ? maka rasakanlah (azab Kami) dan
tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun".
Setelah itu semua kembali ikrar penyaksian seperti di alam
ruh di kala duduk bertasyahud, karena sudah di alam dunia kesaksiannya selain
kepada Allah Swt juga kepada Rasul, karena Rasul yang akan menjelaskan
firman-firman Allah kepada umat manusia. أَشْهَدُ
اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ
وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ “Aku
bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad hamba dan
RasulNya.”
Tasyahud pada tahiyat ada sebutan abduhu (hamba-Nya) agar
tidak terjadi pengkultusan pada Nabi, hawatir seperti orang Nasrani Nabi Isa
dikultuskan menjadi Tuhan. Dalam Islam pengkultusan hanya kepada Allah saja
tidak ada yang lain-Nya, kepada Nabi hanya shalawat saja.
Sumber : http://salimbadjri.wordpress.com