Manusia, Ruh dan Al-Quran
Oleh: Abdullah Nasri
Ruh Menurut Al-Quran
Sebuah pertanyaan yang sampai saat ini jawabannya belum
mampu memuaskan manusia adalah, apakah hakikat wujud manusia? Apakah wujud
manusia hanya sebongkah badan materiel, atau juga membawa hakikat selain
materi? Dengan kata lain, apakah al-Quran mengakui bahwa manusia adalah hakikat
selain materi yang disebut dengan ruh atau menolaknya? Bila mengakui demikian,
lalu bagaimana kitab suci ini menjelaskan hubungan ruh dengan badan? Apakah ruh
ada setelah kejadian badan atau sebelumnya? Apakah al-Quran mengakui bahwa
setelah kehancuran badan, ruh tetap ada atau tidak?
Sebenarnya al-Quran telah menyebutkan adanya dimensi
selain materi pada manusia yang disebut dengan ruh. Sebagaimana yang
diisyaratkan oleh ayat berikut ini: Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan
ruh-Nya ke dalamnya dan Dia menjadikan untuk kalian pendengaran, penglihatan
dan hati tetapi sedikit sekali kalian bersyukur.[1] Kalimat “meniupkan ruh-Nya ke dalamnya” dalam
ayat di atas menunjukkan adanya dimensi yang bernama ruh pada manusia. Setelah
menjelaskan tentang ruh, ayat tersebut mengatakan bahwa Allah menciptakan untuk
kalian telinga, mata dan hati, menurut pandangan sebagian para penafsir,
meskipun membicarakan tentang anggota badan akan tetapi maksudnya adalah
penggunaan dari anggota tersebut yaitu mendengar dan melihat.
Mungkin bisa juga
diambil kesimpulan secara detil dari ayat di atas bahwa setelah menyebutkan
tentang peniupan ruh kemudian menyebutkan tentang telinga, mata dan hati
sebabnya adalah karena sumber asli perbuatan anggota tersebut adalah ruh. Yakni
bila ruh tidak ada maka anggota tersebut tidak ada gunanya karena anggota
tersebut hanya berperan sebagai perantara bagi ruh, tanpa ruh dengan sendirinya
anggota tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.
Dalam filsafat Islam
telah terbukti bahwa badan berperan sebagai perantara bagi aktivitas ruh.
Aktivitas yang dilakukan oleh anggota badan pada hakikatnya sumbernya adalah
ruh. Yakni melihat, mendengar, mencium dan berbicara semuanya terkait dengan
ruh. Mata, telinga, hidung dan lidah hanya sekedar perantara untuk mengetahui
masalah-masalah ini. Misalnya sebuah kacamata. Orang yang penglihatannya lemah,
ia menggunakan kacamata, lantas apakah kacamata itu sendiri yang melihat atau
kacamata hanya sekedar perantara bagi mata? Jelas kacamata dengan sendirinya
tidak bisa melihat akan tetapi ia harus diletakkan di depan mata sehingga mata
yang kerjanya adalah melihat dengan menggunakan kacamata ia bisa melihat
sesuatu. Pada hakikatnya mata dalam contoh tersebut sama seperti ruh, dan
telinga, mata dan lidah seperti kacamata sebagai perantara. Ruh dengan
perantara anggota badan bisa melakukan aktivitasnya.
Ayat lain yang
mengisyaratkan adanya ruh pada manusia adalah ayat berikut ini:
Dan apabila Aku telah
menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ruh-Ku ke dalamnya maka
tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud.[2] Dua poin penting
yang ada dalam dua ayat di atas adalah Allah mengatakan, “Aku meniupkan
ruh-Ku”, apa maksud dari kalimat tersebut? Apakah maksudnya adalah Allah
meniupkan sebagian ruh-Nya kepada manusia. Yakni sebagian ruh-Nya masuk ke
dalam tubuh manusia atau ada maksud yang lain lagi?
Jelas Allah bukan ruh sehingga harus memasukkan sebagian ruh-Nya ke
dalam tubuh manusia, akan tetapi yang dimaksud oleh al-Quran dengan penjelasan
ini adalah kemuliaan dan ketinggian ruh itu sendiri. Yakni ruh begitu bernilai
sehingga Allah menghubungkannya dengan diri-Nya dan mengatakan, “Aku meniupkan
kepadanya ruh-Ku”. Bisa kita jelaskan dengan contoh lain seperti masjid adalah
rumah Allah. Kita tahu bahwa masjid bukan rumah Allah, karena Dia bukan materi
sehingga harus membutuhkan tempat tinggal, akan tetapi maksudnya adalah nilai
dan pentingnya masjid sehingga disebut dengan rumah Allah. Contoh lain seperti
majelis rakyat juga disebut sebagai rumah rakyat.
Ada ayat lain yang mengisyaratkan tentang wujudnya ruh:Demi nafs
(ruh, jiwa) dan penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan jalan kefasikan dan
jalan ketakwaannya.[3] Ayat di atas menceritakan tentang realitas ruh yang memiliki
pemahaman. Ayat di atas mengatakan bahwa Allah telah mengilhamkan pemahaman
baik dan buruk. Mengingat bahwa pada manusia tidak terdapat anggota badan
pun yang bisa memahami sesuatu, maka yang layak memiliki pemahaman adalah
kekuatan selain materi yang disebut oleh al-Quran dengan ruh atau nafs.
Di sini kita mengajukan dua argumentasi
untuk membuktikan keberadaan ruh yang nonmateri:
1. Salah satu pembuktian ruh ialah cara
manusia memperoleh konsep-konsep universal (intiza’-e mafahim-e kulli). Maksud
dari universal di sini ialah bahwa konsep-konsep itu bisa bisa diaplikasikan
pada banyak objek. Misalnya, manusia sebagai konsep universal. konsep
manusia ini bisa diaplikasikan pada semua objek individualnya seperti Ali,
Husein, Husein dan selain mereka. Kita juga tahu bahwa konsep-konsep universal
ini tidak ada secara konkret di luar, karena segala yang ada di luar memiliki
keadaan, kualitas dan kuantitas tertentu. Pertanyaannya, di manakah tempat
konsep-konsep universal ini? Jelasnya, tempat mereka nonmateri, karena materi
melazimkan bentuk tertentu, keadaan tertentu, batas ruang dan waktu tertentu,
sementara konsep-konsep universal tidak memiliki satupun dari ciri-ciri ini.
Dengan demikian, maka mesti ada suatu sisi selain materi dalam wujud manusia,
sehingga konsep-konsep universal -yang tidak memiliki ciri-ciri materiel
sedikit pun- itu bisa berada di dalamnya.
2. Salah satu dari ciri-ciri materi
ialah adanya hubungan khas antara tempat dan penempat (yang menempati). Yakni,
penempat tidak pernah lebih besar dari tempatnya; sesuatu yang lebih besar
tidak bisa menempati ruang yang kecil. Manusia banyak menyaksikan benda-benda
besar dan ia bisa menempatkan gambaran (konsep) benda-benda besar tersebut
dalam pikirannya sesuai dengan ukurannya. Misalnya, ia bisa membayangkan gedung
bertingkat dua puluh dalam pikirannya atau menggambarkan ratusan meter persegi
gunung dalam pikirannya. Pertanyaannya, kalau benar bahwa penggambaran gedung
bertingkat dua puluh ini bisa dilakukan oleh otak sebagai benda yang memiliki
ukuran kecil, lantas bagaimana benda yang besar itu bisa menempati tempat yang
kecil ini? Jelas, berdasarkan kaidah di atas (yakni hubungan khas antara tempat
dan penempatnya) pasti ada satu hakikat nonmateri dalam diri manusia, sehingga
ia bisa menempatkan sesuatu yang besar itu dalam dirinya sesuai dengan ukuran
sebenarnya. Dan hakikat tempat tersebut ialah ruh (nafs). Karena ruh bukan
materi, ia bisa ditempati oleh sesuatu yang besar.
Hubungan Ruh dengan Badan
Dalam pembahasan ruh (nafs) ada pertanyaan,
“apa hubungan badan dengan ruh? Apa pendapat al-Quran dalam masalah ini? Apakah
al-Quran mengakui bahwa ruh dan badan adalah dua hakikat yang berpisah di mana
antara keduanya terdapat dualisme, atau al-Quran mengakui pendapat yang lainnya
lagi?”
Dalam sejarah filsafat, Descartes
dan pendukungnya memaparkan teorinya bahwa ruh dan badan adalah dua
substansi yang berbeda. Yakni jasmani adalah sesuatu dan ruh adalah sesuatu
yang lain lagi. Dan manusia adalah hakikat yang tersusun dari dua paduan yang
berbeda. Decart mengatakan bahwa sifat aslinya badan adalah perpanjangan,
perluasan. Dan sifat aslinya ruh adalah berpikir. Tentunya, Descartes mengakui
bahwa antara badan dan ruh, terdapat suatu hubungan, dan yang menghubungkan
keduanya adalah kelenjar (pineal gland) yang ada dalam otak.
Teori lain mengatakan bahwa hakikat
wujud manusia adalah ruh itu sendiri. Wujud manusia bukan komposisi dari badan
dan ruh. Yakni, wujud manusia adalah ruhnya itu sendiri, bukan ruh sebagai satu
bagian dari wujud manusia. Oleh karenanya, berdasarkan teori ini, antara ruh
dan badan ada sejenis hubungan yang disebut dengan hubungan taktis (ertebat-e
tadbiri), yang di dalamnya badan sebagai alat dan ruh sebagai
pengelola.
Ayat di bawah ini menunjukkan bahwa
al-Quran mengakui bahwa wujud manusia sebagai ruh itu sendiri.
Katakanlah, Malaikat maut yang diserahi mencabut nyawamu akan mematikan kalian
(yatawaffakum: mengambil kalian secara keseluruhan) kemudian hanya kepada
Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.[4] Kata “tawaffa” artinya adalah
mengambil, dan mengambil secara penuh. Ayat di atas mengatakan bahwa malaikat
pencabut nyawa akan mengambil dasar wujud manusia. Kalau memang ruh adalah satu
bagian dari wujud manusia, al-Quran tidak mengatakan: “yatawaffakum”, tetapi ia
akan mengatakan: “yatawaffa ba’dhakum”. Mengambil sebagian dari kalian berbeda
dengan mengambil kalian secara keseluruhan.
Maka dari
itu, mengingat bahwa malaikat maut akan mengambil ruh manusia; bukan mengambil
badannya. Dan ayat tersebut juga mengatakan bahwa malaikat akan mengambil
kalian secara keseluruhan. maka itu jelas bahwa hakikat wujud manusia adalah
ruh, bukan badan. Dengan melihat ayat berikut ini, akan kita dapatkan bahwa
wujud manusia adalah ruh, bukan badan. Jika kamu melihat orang-orang yang zalim
berada dalam tekanan-tekanan maut dan para Malaikat merentangkan
tangan-tangannya seraya berkata ‘keluarkanlah ruh kalian!’ di hari ini kalian
akan dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kalian selalu
mengatakan terhadap Allah perkataan yang tidak benar dan kalian selalu
menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.[5]
Dua poin penting dalam ayat tersebut adalah
kalimat “keluarkanlah ruh kalian” dan kalimat “hari ini kalian akan dibalas”
(tujzauna), yang menunjukkan masa sekarang dan masa yang akan datang. Artinya,
dan pembalasan siksa itu berlanjut, maka yang disiksa adalah ruh, karena badan
manusia akan rusak dan binasa dengan kematian, ketika itu ia tidak menanggung
siksa di alam barzakh.
Bagaimana Kejadian Ruh?
Terdapat banyak teori berkaitan dengan cara kejadian
ruh. Hanya saja, di sini kami akan membahas dua teori yang penting.
1. Teori Ruhaniyatul hudus ruhaniyatul baqa’.
Pendukung teori ini menyatakan bahwa hakikat ruh terkait dengan alam malakut
(metafisik). Yakni, sebelum kejadian badan, ruh berada di alam malakut. Setelah
kejadian badan, ruh menjadi tawanan badan dalam jangka waktu tertentu. Dan
setelah manusia mati, ruh kembali lagi ke asalnya, yaitu ke alam malakut.
2. Teori Jismaniyatul hudus ruhaniyatul baqa’.
Penggagas teori ini adalah Mulla Shadra. Ia mengatakan bahwa ruh bukan materi,
juga tidak turun dari alam malakut ke alam natural. Akan tetapi, ruh terjadi
dari evolusi substansial materi (takamul-e jauhari-ye madeh). Dengan penjelasan
lain, ruh manusia muncul dari gerak substansial yang disebut dengan nafs
natiqah (ruh yang berakal) dan ia abadi dan tidak musnah sepeninggal badan.
Oleh karenanya, ruh adalah hasil dari evolusi natural. Oleh karena itu,
kejadian ruh demikian ini disebut dengan jismaniyatul hudus.
Di sini kita ingin mengetahui; mana dari dua
teori ini yang diterima oleh al-Quran? Apakah dalam masalah ini ayat-ayat
al-Quran juga memaparkan pendapatnya? Dengan mengkaji ayat di bawah ini, bisa
dikatakan bahwa al-Quran menerima teori ‘Jismaniyatul hudus ruhaniyatul
baqa’. Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal)
dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu mani (yang disimpan) dalam tempat
yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu
segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami
jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.[6]
Al-Quran melanjutkannya demikian:
Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk)
lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.[7] Pada tahapan penciptaan dalam ayat di atas
digunakan lafazh ‘Fa’ dan ‘Tsumma’ yang artinya ‘kemudian’, di mana jika
kita teliti maka akan memahami maksudnya dengan baik.
Penjelasannya
adalah dua lafaz ini memiliki selisih yang sangat dekat sekali. Artinya, jika
selisih antara tahapan hanya dari segi sifat atau selisih substansinya dekat
sekali, seperti selisih antara tahapan gumpalan darah dengan gumpalan daging,
dan gumpalan daging dengan tulang belulang maka yang digunakan adalah lafazd
‘Fa’.
Sedangkan selisih
antara saripati tanah sampai mani dan mani sampai gumpalan darah maka selisih
substansinya jauh.
Kalau al-Quran
mengatakan ‘Tsumma Ansya’nahu Khalkan Akhar’, yaitu kemudian Kami jadikan dia
makhluk yang (berbentuk) lain, sebagai penguat makna tersebut di mana selisih
tahapan ini dengan tahapan sebelumnya adalah jauh yaitu daging bercampur tulang
belulang.
Kata ‘Ansya’ dalam
sastra Arab artinya adalah menciptakan sesuatu yang belum terjadi sebelumnya.
Dalam tahapan penciptaan
manusia yakni dari tanah sampai daging bercampur tulang belulang, al-Quran
menggunakan kata ‘Khalaqa’ dan ‘Ja’ala’. Namun di akhir menggunakan kata
‘Ansya’ dan ‘Khalqan Akhar’ untuk menunjukkan bahwa pada tahapan akhir muncul
sesuatu yang baru bagi manusia. Dengan kata lain setelah manusia menjalani
tahapan materi ia sampai pada satu tahapan di mana Allah mewujudkan untuknya
ciptaan yang lain.
Oleh karenanya,
dengan melihat empat poin di bawah ini maka penyimpulan teori ‘Jismaniyatul
hudus-nya ruh bisa disandarkan pada ayat-ayat di atas:
1. Sekaitan dengan
lafazd ‘Tsumma’ dan ‘Fa’. Lafazd Tsumma digunakan untuk tahapan penciptaan
sebelum munculnya ruh. Sedangkan lafazd ‘Fa’ (menunjukkan selisih antara
tahapan wujud) digunakan pada tahapan terakhir penciptaan manusia ketika ruh
sudah bergabung dengan badan.
2. Penggunaan kata
‘Ansya’, menunjukkan penciptaan sesuatu yang belum terjadi sebelumnya.
3. Dalam penciptaan
ruh menggunakan istilah ‘Khalkan Akhar’ artinya penciptaan lain.
4. Pada kata ‘Ansya’nahu’,
zamir ‘Hu’ kembali kepada makhluk yang melewati beberapa tahapan
dari gumpalan
darah sampai daging yang menutupi tulang.[EMS]
[6] . QS,
Al-Mukminun: 12-14.
[7] . QS, Al-Mukminun: 14.
Sumber : http://www.al-shia.org/html/id/quran/buku-dan/12.htm