PENCIPTAAN MANUSIA DI ALAM RAHIM
Harun Yahya, itulah nama pena seorang Ilmuwan
terkenal yang telah meneliti berbagai macam ciptaan Allah demi membuktikan
kebenarannya. Semoga bermanfaat kawan. .
Bagi orang yang tidak
menggunakan akal sehat, jika ia bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana saya
ada?” ia akan menjawab, “Saya ada entah bagaimana!” Dengan penalaran demikian,
ia akan menjalani kehidupan tanpa pernah merenungkan masalah-masalah seperti
itu.
Akan tetapi, orang yang berakal
semestinya merenungkan bagai-mana ia diciptakan, dan menentukan makna hidupnya
sesuai dengan hasil perenungannya. Dalam perenungan ini, ia tidak perlu takut -
seperti yang dirasakan sebagian manusia - untuk mencapai kesimpulan “Saya telah
diciptakan”.
Orang yang tak mau merenungkan hal ini sebenarnya tidak ingin
bertanggung jawab pada sang Pencipta. Mereka takut harus mengubah gaya hidup,
kebiasaan, dan ideologi jika mengaku telah diciptakan. Oleh karena itu, mereka
lari dari ketaatan kepada Pencipta mereka. Demikianlah sikap yang diambil
orang-orang yang menging-kari Allah dan “mengingkari (tanda-tanda
kekuasa-an-Nya) karena kezaliman dan kesombongan mereka, padahal hati mereka
meyakini kebenarannya” (QS. An-Naml, 27: 14).
"وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ "
"dan mereka mengingkarinya karena
kezaliman dan kesombongan (mereka) Padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.
Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.
Sebaliknya, seseorang yang
menilai kebera-daan dirinya dengan kearifan dan akal sehat, akan melihat dalam
dirinya hanya tanda-tanda pen-ciptaan Allah. Ia mengakui bahwa keberadaannya
bergantung pada kerja sama antara ribuan sistem rumit, yang tak satu pun ia
ciptakan atau ia kenda-ikan. Ia memahami fakta bahwa “ia diciptakan”. Dengan
mengenal Penciptanya, ia berusaha me-mahami untuk tujuan apa ia
“diciptakan” Tuhan.
Bagi siapa pun yang berusaha
memahami makna ciptaan Tuhan, terdapat kitab petunjuk: Al Quran. Kitab ini
adalah panduan yang diberikan kepada semua manusia yang diciptakan Tuhan di
muka bumi.
Bahwa fenomena penciptaan itu
terjadi sesuai dengan uraian yang ada dalam Al Quran membawa
arti sangat penting bagi orang-orang yang berakal.
Pada halaman-halaman berikut
terkan-dung berbagai informasi, bagi mereka yang arif dan berakal sehat, yang
menunjukkan bagai-mana “mereka diciptakan” dan keajaiban pen-ciptaan ini.
Kisah penciptaan manusia berawal
di dua tempat yang saling berjauhan. Manusia menapaki kehidupan melalui
pertemuan dua zat terpisah di dalam tubuh lelaki dan perem-puan, yang
diciptakan saling terpisah namun sangat selaras. Jelas, sperma di dalam tubuh
lelaki tidak dihasilkan atas kehendak dan kendali lelaki tersebut, sebagaimana
sel telur di dalam tubuh perempuan tidak terbentuk atas kehendak dan kendali
perempuan tersebut. Sesungguhnya, mereka bahkan tidak menyadari pembentukan
sel-sel ini.
“Kami telah menciptakan kamu,
maka mengapa kamu tidak mem-benarkan (hari berbangkit)? Maka terangkanlah
kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau
Kamikah yang menciptakannya?” (QS. Al Waaqi'ah, 56: 57-59) !
Jelaslah bahwa kedua zat
tersebut, yang berasal dari lelaki dan perempuan, diciptakan sangat
bersesuaian. Penciptaan kedua zat ini, pertemuan antara keduanya, dan
perubahannya menjadi manusia sung-guhlah suatu keajaiban besar.
Buah Pelir dan Sel Perma
Sperma, yang merupakan tahap
pertama dalam penciptaan manusia, diproduksi “di luar” tubuh manusia. Ini
karena produksi sperma hanya mungkin terjadi di lingkungan bersuhu 2C di bawah
suhu tubuh normal. Untuk menstabilkan suhu pada tingkat ini, buah pelir dilapisi
kulit khusus. Kulit ini mengerut pada cuaca dingin dan mengembang pada cuaca
panas, untuk menjaga suhu tetap konstan.
Apakah lelaki “mengen-dalikan” dan
mengatur sendiri keseimbangan rumit ini? Tentu tidak. Ia bahkan tidak menyadari
hal ini. Para pengingkar penciptaan hanya dapat mengatakan, ini adalah “fungsi
tubuh manusia yang belum diketahui”. Definisi “fungsi yang belum diketahui”
hanyalah “sekadar nama”.
Sperma diproduksi dalam buah
pelir dengan laju produksi 1000 per menit. Sel ini memiliki desain khusus untuk
perjalanannya menuju indung telur perempuan, perjalanan yang berlangsung seolah
ia “menge-nal” tempat itu. Sperma terdiri atas kepala, leher, dan ekor. Ekornya
membantunya bergerak bagai ikan menuju rahim.
Bagian kepalanya, yang
mengandung sebagian kode genetis bayi, ditutupi perisai pelindung khusus.
Fungsi perisai ini terungkap di pintu masuk rahim ibu: di sini lingkungannya
sangat asam. Jelas, sperma ditutupi dengan perisai pelindung oleh “seseorang”
yang tahu tentang keasaman ini. (Kondisi lingkungan asam ini bertujuan
melindungi sang ibu dari mikroba).
Yang diejakulasikan ke dalam
rahim tidak hanya jutaan sperma. Air mani adalah campuran berbagai macam
cairan. Al Quran menegaskan fakta ini dalam ayat berikut:
“Bukankah telah datang atas
manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan yang dapat
disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang
bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena
itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al Insaan, 76: 1-2) !
Cairan dalam air mani ini berisi
gula, untuk memberi energi yang dibutuhkan sperma. Di samping itu, komposisi
utamanya memiliki beragam tugas, seperti menetralkan asam pada pintu masuk ke
rahim dan menjaga kelicinan medium untuk pergerakan sperma. (Di sini sekali
lagi terlihat bahwa dua wujud yang berbeda dan saling independen, diciptakan
saling cocok).
Spermatozoa menempuh perjalanan sulit di dalam rahim ibu hingga
mencapai sel telur. Betapapun mereka bertahan, kurang-lebih hanya seribu dari
sekitar 200-300 juta spermatozoa yang mencapai sel telur.
Sel Telur
Jika sperma didesain sesuai
dengan sel telur, sel telur juga disiapkan sebagai benih kehidupan pada medium
yang sama sekali berbeda…. Tanpa sepengetahuan perem-puan, sel telur yang telah
matang di indung telur ditinggalkan di rongga perut, kemudian tertangkap oleh
lengan-lengan pada ujung organ tubuh bernama tuba falopii rahim. Setelah itu,
sel telur mulai bergerak dengan bantuan gerakan rambut pada tuba falopii. Sel
telur ini besarnya hanya setengah partikel garam.
Sel telur dan sperma bertemu di
dalam tuba falopii. Di sini sel telur mulai mengeluarkan cairan khusus. Dengan
bantuan cairan ini, sperma-tozoa menemukan lokasi sel telur. Kita harus menyadari
bahwa tatkala kita mengatakan sel telur “mulai mengeluarkan”, kita tidak sedang
mem-bicarkan manusia atau suatu makhluk sadar.
Hal ini tidak dapat dijelas-kan
melalui konsep kebetulan, bahwa massa protein mikroskopis “me-mutuskan”
tindakan itu “dengan sendirinya”, kemudian “mempersiap-kan” dan mengeluarkan
senyawa kimia untuk menarik spermatozoa kepadanya. Ini merupakan bukti bahwa
ada sebuah perancangan dalam proses ini.
Singkatnya, sistem reproduksi
tubuh didesain untuk mempersatu-kan sel telur dan sperma. Ini berarti bahwa
sistem reproduksi perempuan diciptakan sesuai dengan kebutuhan spermatozoa dan
spermatozoa diciptakan sesuai dengan kebutuhan lingkungan di dalam tubuh
wanita.
Pertemuan Sperma dan Sel Telur
Ketika spermayang akan membuahi
sel telursemakin mendekati sel telur, sel telur kembali “memutuskan” untuk
mengeluarkan suatu cairan, yang disiapkan khusus bagi sperma, untuk melarutkan
perisai perlindungan sperma. Akibatnya, terbukalah kantung enzim pelarut pada
ujung sperma, yang dibuat secara khusus untuk sel telur.
Ketika sperma mencapai
sel telur, enzim-enzim ini melubangi membran sel telur dan memungkinkan sperma
masuk. Spermatozoa di sekeliling telur mulai berebut masuk, tetapi biasanya
hanya satu sperma yang berhasil membuahi sel telur.
Ayat-ayat Al Quran yang
menjelaskan tahapan ini sangatlah mena-rik. Dalam Al Quran, dinyatakan bahwa
manusia dibuat dari saripati cairan hina, yaitu air mani.
“Kemudian Dia menjadikan
keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).” (QS. As-Sajadah, 32: 8) !
Sebagaimana diungkapkan ayat
tersebut, bukan cairan yang membawa spermatozoa itu yang membuahi telur,
mela-inkan “saripatinya” saja. Sari-pati tersebut adalah sperma di dalamnya,
yang menjadi agen pembuahan, atau lebih tepat lagi, kromo-som di dalam sperma
tersebut, yang merupakan “saripati” sperma.
Ketika sel telur membiarkan satu
sperma masuk, sperma lain tidak mungkin masuk. Penyebabnya adalah medan listrik
yang terbentuk di sekeliling sel telur. Wilayah di sekeliling telur bermuatan
negatif (-) dan begitu sperma pertama menembus sel telur, muatan ini berubah
menjadi positif (+). Oleh karena itu, sel telur tersebut, yang kini bermuatan
sama dengan spermatozoa lain di luar, mulai menolak mereka.
Ini berarti muatan listrik
kedua zat tersebut, yang terbentuk secara independen dan terpisah, juga
bersesuaian
Akhirnya, bergabunglah DNA laki-laki di
dalam sperma dan DNA perempuan di dalam sel telur. Sekarang terdapat benih
pertama, sel pertama dari manusia baru, di dalam kandungan ibu: zigot.
Segumpal Darah yang Melekat pada
Rahim …
Saat sperma dari laki-laki
bersatu dengan sel telur dari perempuan, inti dari bayi yang akan dilahirkan
mulai terbentuk. Sel tunggal ini, yang dalam biologi dikenal dengan istilah
“zigot”, akan segera mulai berkem-bang dengan melakukan pembelahan sel, dan
akhirnya menjadi “segumpal daging”.
Namun, zigot tersebut tidak mengha-biskan
masa pertumbuhannya dalam kehampaan. Zigot melekat pada rahim, bagaikan akar
yang menancap kuat ke bumi melalui sulurnya. Melalui ikatan ini, zigot
memperoleh zat gizi yang pen-ting bagi pertumbuhannya dari tubuh sang ibu.
Perincian seperti ini tak
mungkin di-ketahui tanpa pengetahuan fisiologi yang memadai. Jelas,
berabad-abad lalu tidak ada seorang pun yang menguasai ilmu seperti itu. Tapi
sungguh menarik, Allah selalu menyebut zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu
sebagai “segumpal darah” dalam Al Quran:
“Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Pa-ling Pemurah.” (QS. Al 'Alaq, 96: 1-3) !
“Apakah manusia mengira, bahwa
ia akan dibiar-kan begitu saja (tanpa pertanggungan jawab)? Bu-kankah dia
dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu
menjadi se-gumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakan-nya,
lalu Allah menjadikan darinya sepasang; laki-laki dan perem-puan.” (QS. Al
Qiyaamah, 75: 36-39) !
Dalam bahasa Arab, arti kata
“'alaq” atau “segumpal darah” adalah “benda yang melekat pada suatu tempat”.
Secara harfiah, kata tersebut digunakan untuk menjelaskan lintah yang menempel
pada kulit untuk mengisap darah. Jelas, itulah kata yang paling tepat untuk
menggam-barkan zigot yang melekat pada dinding rahim untuk menyerap makan-an
darinya.
Masih banyak ayat Al Quran yang
mengungkap tentang zigot ini. Dengan menempel pada rahim secara sempurna, zigot
pun mulai tum-buh. Sementara itu, rahim sang ibu dipenuhi dengan “cairan
amnion” yang melingkupi zigot. Fungsi terpenting cairan amnion bagi
pertum-buhan bayi adalah melindungi si bayi dari “serangan” dari luar. Dalam Al
Quran, fakta ini diungkapkan sebagai berikut:
“Bukankah Kami menciptakan kamu
dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh
(rahim).” (QS Al Mursalat, 77: 20-21) !
Semua informasi Al Quran tentang
pembentukan manusia ini mem-perlihatkan bahwa Al Quran berasal dari sebuah
sumber yang mengeta-hui masalah ini hingga hal yang sekecil-kecilnya. Sekali
lagi, ini membuk-tikan bahwa Al Quran adalah firman Allah.
Sementara itu, embrio yang
awalnya mirip gel, mulai berubah seiring waktu. Dalam struktur yang mulanya
lunak ini, mulai terbentuk tulang keras untuk membantu tubuh berdiri tegak.
Kemudian sel, yang mulanya semua sama, mulai terspesialisasi: ada yang
membentuk sel mata yang peka terhadap cahaya, sel saraf yang peka terhadap
panas, dingin, dan sakit, dan sel yang peka terhadap getaran suara.
Apakah
sel-sel itu sendiri yang menentukan perbedaan-perbedaan ini? Apakah mereka
sendiri yang pertama kali memutuskan untuk membentuk hati atau mata ma-nusia,
kemudian menuntaskan tugas yang luar biasa ini? Ataukah di lain pihak, mereka telah
diciptakan dengan tepat untuk tujuan-tujuan ini? Kearifan, kecerdasan, dan jiwa
pasti akan membenarkan alternatif kedua.
Pada akhir proses, setelah sang
bayi tumbuh sempurna di dalam rahim ibu-nya, ia lalu lahir ke dunia. Kini bayi
itu 100 juta kali lebih besar dan 6 miliar kali lebih berat daripada wujud
awalnya.
Inilah kisah awal mula kehidupan
manusia, bukan makhluk lain. Jadi, apa yang lebih penting bagi manusia selain
mengetahui tujuan penciptaan yang menakjubkan ini?
Sangat tidak logis bila kita
berpikir bahwa semua fungsi kompleks ini terjadi “atas kemauan sendiri”. Tidak
ada seorang pun yang memiliki kekuatan untuk menciptakan dirinya sendiri,
menciptakan orang lain, atau menciptakan benda lain. Allah-lah yang menciptakan
semua kejadian yang telah dijelaskan tadi, pada setiap saat terjadinya, setiap
detiknya, dan setiap tahapannya.
“Dan Allah menciptakan kamu dari
tanah, kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan
(laki-laki dan perem-puan). Dan tidak ada seorang perempuan pun mengandung dan
tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan seka-li-kali
tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi
umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya
yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” (QS. Faathir, 35: 11) !
Tubuh kita, yang terbentuk hanya
dari “setetes mani”, berubah men-jadi manusia yang memiliki jutaan keseimbangan
yang rumit. Meskipun tidak kita sadari, di dalam tubuh kita terdapat sistem
yang teramat kom-pleks dan rumit, yang membantu kita bertahan hidup. Semua
sistem ini dirancang dan dioperasikan hanya oleh Sang Pemilik dan Pencipta
kita, yakni Allah, untuk menyadarkan kita bahwa “kita diciptakan”.
Manusia diciptakan oleh Allah.
Sejak diciptakan, manusia tidak per-nah “dibiarkan tanpa pengaturan atau tanpa
tujuan”.
Harun Yahya